“Kerja, kerja, kerja..”

Indonesian President Widodo shakes hands with members of his new cabinet after they were unveiled at the presidential palace in JakartaKata ‘kerja’ memang sudah sangat akrab di telinga kita. Bahkan kata ini digunakan oleh pemerintah Indonesia sekarang untuk menyebut kabinetnya. “Kerja, kerja, kerja…” ya, jargon ini diusung oleh pemerintah untuk merepresentasikan jatidiri mereka sekaligus pembeda dengan pemerintahan sebelumnya. Para menteri sebagai ‘front liner’ mendukung hal ini dengan berkemeja putih lengan panjang namun bagian lengan bawahnya dilipat ketika menjalankan tugasnya, bukan mengenakan jas lengkap yang dinilai menghambat kelincahan dalam bekerja.

Bekerja: berkat atau kutuk?
Pepatah mengatakan, “kalau tidak kerja maka tidak makan”. Pepatah ini seakan menjelma menjadi sebuah doktrin dalam banyak keluarga, termasuk keluarga Kristen. Ada pula istilah eight to five yang artinya durasi bekerja di kantor dalam satu harinya. Karyawan akan masuk kerja mulai pukul 08.00 pagi dan berakhir pukul 17.00. Dalam penerapannya akan lebih panjang lagi durasinya kalau karyawan tersebut hidup di kota besar, misal Jakarta. Untuk masuk kantor pukul 08.00 pagi tanpa terlambat maka paling tidak harus berangkat dua jam sebelumnya. Begitu pula pulangnya, apabila tidak ingin terjebak macet maka biasanya para pekerja ini akan memilih lembur sampai malam. Banyak orang yang tertekan menghadapi kondisi ini dalam hidupnya belum lagi ketika diperhadapkan dengan persaingan yang begitu ketat dan kemungkinan-kemungkinan menghadapai pemecatan atau kerugian.
Menyadari fenomena ini akan membawa permenungan kita kepada apa yang tertulis dalam Kejadian 3:17-19, “…maka terkutuklah tanah karena engkau; dengan bersusah payah engkau akan mencari rezekimu dari tanah seumur hidupmu…dengan berpeluh engkau akan mencari makananmu…”. Berdasar ayat di atas, pertanyaan yang kemudian mengemuka adalah apakah benar kerja adalah sebuah kutukan? Tentu kita sebagai orang Kristen harus memandang bahwa kerja adalah sebuah berkat karena sebenarnya perintah untuk bekerja sudah diberikan Tuhan sebelum manusia itu jatuh ke dalam dosa (Kej. 1:28 ; 2:15 ,19 ). Memang seharusnya makna dari bekerja diambil dari mandat Allah dalam karya penciptaan sebelum manusia jatuh ke dalam dosa, bukan setelahnya. Bekerja adalah merupakan gambaran Allah yang aktif (Kej. 2:2 – “Ketika Allah pada hari  yang ketujuh telah menyelesaikan pekerjaan yang dibuat-Nya itu…..”). Bahkan hingga saat ini Allah terus bekerja (band. Yoh. 5:17 – “Tetapi Ia berkata kepada mereka: “Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Aku pun bekerja juga”), dan pekerjaan Allah itu dinyatakan sebagai menegakkan ciptaan-Nya (Kol. 1:16), memenuhi segala kebutuhan dari ciptaan-Nya (Mzm 104:10-30) dan menyelesaikan pekerjaan penebusan (Yoh 4:34). Bahkan yang lebih menarik adalah bahwa Allah menciptakan manusia sebagai rekan kerja-Nya (Kej. 2:8, 15).

Bekerja: rohani atau sekuler?
Doug Sherman, pendiri dan presiden dari Career Impact Ministries (CIM) di Little Rock Arkansas, mengangkat dampak bahaya cardiodocsmemisahkan dunia kehidupan menjadi rohani dan sekuler. Bahaya yang pertama adalah menarik keterlibatan unsur sakral dari dunia sehari-hari. Kita tahu banyak orang yang berpikir bahwa bekerja hanya untuk mencari nafkah, yang penting uang yang didapat tanpa memikirkan proses mana yang berkenan di hadapan Allah. Bahaya yang kedua adalah berkompromi dalam urusan moral. Apakah “half-truth” itu kebenaran? Berkompromi dengan moral banyak sekali contohnya di dunia kerja. Salah satu contoh adalah bila kita secara sengaja mengambangkan perjanjian kontrak dengan pelanggan, padahal secara verbal kita memberi persepsi ke pelanggan seakan-akan jasa atau bagian produk tertentu itu termasuk dalam produk yang mereka beli. Kita bisa saja merasionalisasi bahwa kita tidak mengucapkan sesuatu kebohongan. Tapi secara intuisi kita tahu yang dipersepsikan pelanggan itu di luar jasa atau bagian produk yang mereka beli. Namun kita diam saja dan tidak memberi kejelasan. Bahaya yang ketiga yaitu skeptis terhadap relevansi nilai-nilai Kekristenan. Ia menemukan sedikit sekali buku atau khotbah yang mengangkat nilai-nilai Alkitab di dunia bisnis. Lebih sering kita menjumpai buku atau renungan yang berkaitan dengan keluarga atau potensi diri sehingga tidaklah heran banyak orang skeptis akan relevansi nilai Kekristenan di dunia pekerjaan.

Memikirkan ulang dan memperbaiki  
Mengapa pekerjaan yang sakral dapat luntur nilainya? Sherman melihat (seperti juga yang sudah disinggung dalam paragraf-paragraf sebelumnya) bahwa dosa manusialah yang menjadi penyebabnya. Bekerja bukan sekedar bekerja dan asal jadi, bekerja itu harus sesuai dengan kehendak dan cara Allah. Bekerja bukanlah hanya untuk menghasilkan sesuatu, tetapi sebagai karakter Allah itu sendiri yang diberikan kepada manusia. Selain itu, melalui pekerjaan, kita dapat melayani orang lain, memenuhi kebutuhan hidup dan keluarga dan dapat mengasihi Allah.
Oleh karena itu dengan pandangan yang benar terhadap pekerjaan, kita akan diarahkan untuk melakukan yang terbaik dalam pekerjaan Office_Space_by_FatherofGod1dan pelayanan kita, dengan  tidak perlu membandingkan apakah pekerjaan/ pelayanan  kita lebih baik atau tidak dari orang lain, karena Allah yang akan mengujinya. Hal ini juga mencakup tentang pemilihan pekerjaan, menyelami arti kerja itu buat diri pribadi di hadapan Allah, serta bagaimana cara pribadi tersebut menjalankan pekerjaan. R. Paul Stevens menyarankan agar kita perlu masuk mendalami pekerjaan kita masing-masing. Ini berarti kita bukan sekedar sibuk hanya karena demi sibuk, tapi sibuk yang khusus untuk mengerti secara utuh bidang pekerjaan kita sambil mencari aspek apa saja dari pekerjaan kita yang baik, yang berkenan kepada Allah, dan yang sempurna. Lebih lanjut, Stevens juga menyarankan agar kita perlu menumbuhkan dan merawat integritas, yang mencakup keadilan,  kemampuan memilah hal yang  mendesak dan penting,  hidup sederhana (mengejar cukup dengan apa yang ada bukan mengejar hidup berkelebihan),  keberanian dalam kebenaran (tidak takut menyuarakan prinsip-prinsip kebenaran sekalipun kita menderita kerugian, beriman pada Allah karena tidak semua hal dapat kita kontrol tetapi Allahlah yang memegang kontrol, dan tidak berkompromi dengan kebenaran.
Selain itu Stevens melihat penting pula bagi kita untuk selalu mengejar kesucian dalam bertindak. Untuk tahu mana hal yang berkenan pada Allah yang Maha Suci, kita sangat perlu mendalami pengetahuan tentang Allah berdasarkan Alkitab. Tidak cukup hanya mendengar Firman, tapi kita harus berani menerapkannya dalam kehidupan kita.  Marilah kita menggumulkan sekali lagi, apakah kita memuliakan Allah dalam pekerjaan kita?